DANAU TOBA : MITOS DAN TRAGEDINYA
01 Juli 2018
Sumber Foto: PojokSatu

Dr. Frietz R. Tambunan: Tenggelamnya KM Sinar Bangun di danau Toba (18/6) menghasilkan tragedi memilukan karena dari sekitar 200-an korban, hanya 18 orang yang selamat (Kompas 21/6). Ternyata pasca-tsunami 2004 di Aceh, upaya pencegahan bahaya (disaster prevention) dan pengurangan risiko bencana (disaster risk reduction) masih tetap retorika di tanah air.
Mitos Danau Toba

Legenda danau Toba bermula dari kisah seorang laki-laki bernama Toba, yang menikah dengan istrinya, jelmaan seekor ikan mas, yang murka pada anaknya Samosir dan berkata bahwa ia adalah anak seekor ikan. Samosir yang sakit hati melapor kepada ibunya yang menjadi sedih karena Toba, suaminya, telah mengingkari janji pranikah untuk tidak pernah mengungkapkan identitasnya. Sang istri kembali menjadi ikan dan banjir besar pun terjadi. Danau Toba pun terbentuk dan Toba, istrinya, Samosir menjadi pemilik mistis danau Toba.
Mitos tercipta karena manusia tak mampu menjelaskan realitas secara rational. Mircea Eliade (1968) menggambarkan kuasa di luar diri manusia sebagai tremendum et fascinosum (menakutkan dan menakjubkan) dan manusia harus taat dan hormat. Mitos danau Toba adalah salah satu contohnya dan apa saja yang terjadi di danau besar itu, khususnya tragedi besar, akan dikaitkan dengan kuasa mistis itu. Segera setelah KM Sinar Bangun tenggelam dan menewaskan banyak penumpangnya, muncullah kisah tertangkapnya ikan mas besar di hari sebelumnya yang menurut keyakinan orang-orang setempat seharusnya dilepas kembali ke dalam danau.
Kendati irasional, mitos berfungsi menyampaikan ajaran sehat yang berlaku umum seperti perlunya  menjaga kesetiaan pada janji dan kesepakatan bersama, rasa hormat pada orang lain, alam semesta serta mahluk hidup lainnya dan Sang Pencipta. Ketika KM Sinar Bangun tenggelam, orang lantas mengungkit berbagai perilaku yang kurang pas di seputar tragedi: massa yang tidak memiliki sense of crisis, pengusaha yang mengutamakan keuntungan, otoritas pelabuhan yang lalai dan tiadanya sistem penanggulangan bencana. Danau Toba yang begitu luas dan ramai pengunjung terpapar begitu saja bak sebuah lahan peternakan penuh domba tanpa gembala dan dikelilingi oleh predator ganas.

Pembangunan berbasis big doing
Sejak masa penjajahan Belanda, masyarakat di sekitar danau Toba telah mengecap proses pendidikan berkelanjutan namun sepertinya karakter masyarakat masih sarat dengan primordialisme kental. Pemerintah telah berupaya untuk mentransformasikan perilaku-perilaku yang lebih enlightened (cerah) dengan mengintroduksi ide pengembangan wisata lewat konsep BODT (Badan Otorita Danau Toba) dan Geopark Kaldera Toba namun masih terganjal oleh patok-patok primordialisme tadi. Konsep perubahan yang sesungguhnya merupakan hukum alam, masih terus digugat dan dipertanyakan. Padahal kita semua tahu bahwa orang dan masyarakat yang tidak berubah dengan mengubah mind-setnya akan tergilas oleh perubahan itu sendiri. Akibatnya danau Toba menjadi keajaiban murni nature dan tragedinya adalah belum menjadi karya intelektual dan ketrampilan kultural yang menguntungkan manusia sekitarnya.

Mungkin salah satu cara cerdas mengubah kondisi ini adalah merancang pembangunan berbasis doing. Di zaman big data saat ini, orang mempunyai akses ke segala sumber data, termasuk data pembangunan. Kepemimpinan nasional kita saat ini yang tidak lagi retorik seperti sebelumnya, telah melakukan pembangunan ber-double basis ini (big data dan big doing) dan rakyat sudah dapat melihat, menikmati, merasakan dan bersyukur seperti misalnya pada saat masyarakat Sumut menikmati jalan tol Medan – Tebing Tinggi. Sebaliknya di sekitar  danau Toba, masyarakat masih sibuk mengomel atas dermaga-dermaga yang tak layak, kapal-kapal tua dan berbagai infrastruktur dan sarana yang minim serta pelayanan umum yang buruk.

Tentunya tidak hanya pemerintah yang harus merubah diri demi mengakhiri tragedi ini. Sudah saatnya masyarakat di sekitar danau Toba merubah cara pikir yang bertentangan dengan perubahan. Pemerintah lokal sebaiknya bergegas menciptakan pembangunan double basis ini karena masyarakat sudah cerdas menganalisis, mengakses, meminta bukti dan juga menikmati apa yang dipentaskan dalam panggung pembangunan. Masyarakat akan lebih terbuka pada ide pembaharuan dan pembangunan jika di danau Toba bersileweran kapal-kapal yang lebih baik, ferry penyeberangan yang cukup, dermaga-dermaga yang kokoh, rasa aman dan pelayanan yang prima, serta para pejabat yang setia melayani. Proyek raksasa BODT dan Geopark Kaldera Toba perlu disetting lebih down-to-earth – menyentuh rasa, hati, pikiran masyarakat sekitar. Prevensi dan upaya pengurangan risiko bencana sudah perlu di-inbuilt dengan proyek pembangunan infrastruktur sebab jika pembangunan tidak menciptakan rasa syukur dan aman, maka BODT dan Geopark Kaldera Toba akan menjadi tragedi baru danau Toba. Danau Toba hendaknya tidak lagi hanya keajaiban alam yang indah tetapi menjadi keajaiban kultural, hasil oleh pikir dan tangan masyarakat dan pemerintah.

•    Penulis adalah Rektor Universitas Katolik Santo Thomas, tinggal di Medan.