Gema Bulan Bahasa dan Budaya, Prodi PBSI Unika Santo Thomas Dorong Kreativitas, Kompetensi, dan Kecintaan terhadap Bahasa Indonesia

Medan, 28 Oktober 2026 — Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Katolik Santo Thomas menyelenggarakan Gema Bulan Bahasa dan Budaya dalam rangka memperingati Bulan Bahasa sekaligus momentum Hari Sumpah Pemuda. Kegiatan yang berlangsung di Aula Lantai 3 Perpustakaan Universitas Katolik Santo Thomas tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kreativitas, kemampuan berkomunikasi, keberanian tampil, serta kecintaan terhadap bahasa, sastra, dan budaya Indonesia.

Kegiatan ini dihadiri oleh Dekan FKIP Drs. Losten Tamba, M.Pd., Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Candra Ronitua Gultom, S.Pd., M.Pd., para dosen PBSI, serta mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Turut mendukung kegiatan tersebut para dosen PBSI, yakni Wira Manik, S.Pd., M.Pd., Liana, S.Pd., M.Hum., dan Esron Ginting, S.Pd., M.Pd.

Gema Bulan Bahasa dan Budaya tidak hanya menjadi kegiatan perayaan, tetapi juga menjadi bagian dari proses pembelajaran mahasiswa. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa mendapatkan pengalaman nyata dalam merancang dan melaksanakan sebuah kegiatan, mulai dari menyusun proposal, mencari dukungan, mempersiapkan rangkaian acara, membuat surat, mendesain sertifikat, hingga tampil dan berkomunikasi di hadapan publik.

Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Candra Ronitua Gultom, S.Pd., M.Pd., menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia dan mahasiswa yang telah bekerja keras mempersiapkan kegiatan tersebut. Menurutnya, proses persiapan kegiatan telah memberikan pengalaman berharga bagi mahasiswa, mulai dari menyusun proposal, mencari dukungan dana, melakukan penjualan, mempersiapkan acara, hingga mengelola berbagai kebutuhan administrasi dan teknis kegiatan. Ia menegaskan bahwa setiap proses yang dijalani mahasiswa merupakan bagian dari pembelajaran. Menurutnya, mahasiswa tidak hanya belajar mengenai teori bahasa dan sastra di dalam kelas, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk belajar berbicara di depan umum, menjadi pembawa acara, menyusun sambutan, membuat surat permohonan dana, surat undangan, mendesain sertifikat, serta mengelola sebuah kegiatan secara mandiri. “Ini adalah bagian dari perkuliahan. Artinya, mahasiswa tidak hanya belajar di dalam kelas. Ketika berdiri di depan dan tampil di panggung, itu juga merupakan proses pembelajaran,” jelasnya.

Candra juga menekankan bahwa kemampuan berbicara di depan publik membutuhkan latihan dan pengalaman. Rasa gugup ketika tampil di hadapan banyak orang merupakan bagian dari proses yang harus dihadapi mahasiswa agar semakin percaya diri dan mampu menyampaikan gagasan dengan baik. Lebih jauh, ia mengingatkan mahasiswa bahwa pendidikan di perguruan tinggi tidak semata-mata tentang materi yang disampaikan dosen. Mahasiswa dituntut untuk aktif mengembangkan kemampuan dan kompetensi secara mandiri melalui berbagai pengalaman, bacaan, kegiatan organisasi, maupun lingkungan sosial.

Menurutnya, berbagai prestasi alumni PBSI menjadi bukti bahwa kompetensi yang diperoleh selama masa perkuliahan dapat berkembang ketika mahasiswa berani mengasah kemampuan di luar ruang kelas. Sejumlah alumni bahkan telah menunjukkan kemampuan dalam dunia kerja, menjadi pembawa acara, berkarya melalui tulisan, hingga menghasilkan karya sastra berupa novel. “Jadi, ini bukan hanya kegiatan seremonial. Ini adalah rangkaian pembelajaran. Mahasiswa belajar menjadi MC, belajar berbicara, belajar menyusun acara, membuat surat, mendesain sertifikat, dan banyak hal lainnya,” ungkapnya. Ia juga mendorong mahasiswa untuk terus mengembangkan kompetensi tambahan yang dapat menjadi bekal ketika memasuki dunia kerja. Kemampuan berkomunikasi, seni, organisasi, kepemimpinan, serta keterampilan lainnya dinilai dapat menjadi nilai tambah yang memperluas peluang mahasiswa di masa depan.

Sementara itu, Dekan FKIP Universitas Katolik Santo Thomas, Drs. Losten Tamba, M.Pd., menyampaikan bahwa pelaksanaan Gema Bulan Bahasa dan Budaya memiliki makna yang semakin kuat karena dilaksanakan bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda. Ia menjelaskan bahwa momentum Sumpah Pemuda tidak terlepas dari sejarah perjuangan pemuda Indonesia dalam membangun persatuan, termasuk melalui ikrar menjunjung bahasa persatuan, yaitu bahasa Indonesia. Semangat tersebut kemudian terus dikembangkan melalui berbagai upaya untuk meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap bahasa, sastra, dan budaya Indonesia.

Menurut Losten, Bulan Bahasa menjadi momentum penting untuk meningkatkan sikap positif dalam menggunakan bahasa Indonesia, memperkuat kemampuan literasi, serta meningkatkan apresiasi terhadap karya sastra. “Dengan Bulan Bahasa ini, kita memiliki kesempatan untuk meningkatkan sikap positif dalam berbahasa Indonesia, menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, meningkatkan kemampuan literasi, serta semakin mampu mengapresiasi sastra,” tuturnya.

Ia memberikan apresiasi kepada Program Studi PBSI dan seluruh panitia yang telah menyelenggarakan kegiatan tersebut. Menurutnya, kegiatan mahasiswa seperti Gema Bulan Bahasa dan Budaya perlu terus dikembangkan dan dirancang secara berkelanjutan karena selain memberikan pengalaman kepada mahasiswa, kegiatan tersebut juga dapat menjadi bagian dari dokumentasi prestasi dan pengembangan Program Studi PBSI. Losten juga mendorong mahasiswa untuk menghasilkan karya secara mandiri dan memanfaatkan perkembangan teknologi digital sebagai ruang untuk berkarya. Menulis, membuat konten edukatif, menghasilkan karya sastra, maupun mempublikasikan kreativitas melalui berbagai platform digital dapat menjadi sarana pengembangan diri sekaligus membuka peluang baru bagi mahasiswa.

“Semoga mahasiswa dapat terinspirasi untuk menghasilkan karya-karya yang dapat menjadi tambahan pengalaman dan peluang bagi masa depan,” ujarnya.

 Dalam kesempatan yang sama, Wakil Ketua HMP PBSI Tahun 2025, Priska Manalu, menyampaikan bahwa Gema Bulan Bahasa dan Budaya diharapkan menjadi wadah untuk mempererat kebersamaan, meningkatkan kekompakan, dan membangun kerja sama antarmahasiswa. Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menampilkan kreativitas dan bakat, saling mendukung, serta menumbuhkan kecintaan terhadap bahasa, sastra, dan budaya Indonesia.

“Sebagai mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, kita memiliki tanggung jawab untuk menjaga bahasa, menghargai karya sastra, dan melestarikan budaya bangsa. Oleh karena itu, marilah kita terus berkarya dan berkontribusi untuk kemajuan program studi yang kita banggakan,” ungkap Priska.

Sementara itu, Ketua Panitia Gema Bulan Bahasa dan Budaya, Yoste­ven Hutagaol, berharap seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan dengan baik dan memberikan pengalaman yang berharga bagi mahasiswa. Ia mengajak seluruh mahasiswa menjadikan kegiatan tersebut sebagai momentum untuk menunjukkan bahwa bahasa dapat menjadi sarana yang menyatukan berbagai perbedaan.

“Biarlah bahasa terus menggema, sastra terus berkarya, dan budaya tetap menyatukan kita,” ujarnya.

Gema Bulan Bahasa dan Budaya menjadi bukti bahwa pembelajaran di perguruan tinggi dapat berlangsung melalui berbagai pengalaman nyata. Ketika mahasiswa terlibat langsung dalam perencanaan, kepanitiaan, komunikasi publik, penciptaan karya, dan pelaksanaan kegiatan, mereka sesungguhnya sedang membangun kompetensi yang akan menjadi bekal penting dalam kehidupan akademik maupun profesional. Melalui kegiatan ini, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Katolik Santo Thomas terus mendorong mahasiswa untuk menjadi pribadi yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga percaya diri, kreatif, mandiri, komunikatif, mampu bekerja sama, dan memiliki kepedulian terhadap bahasa, sastra, serta budaya Indonesia.

Semangat tersebut sejalan dengan nilai pendidikan Universitas Katolik Santo Thomas dalam membentuk generasi yang memiliki kompetensi sekaligus karakter, sehingga mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan bangsa. Dengan semangat Sumpah Pemuda, Gema Bulan Bahasa dan Budaya diharapkan terus menjadi ruang bagi mahasiswa PBSI untuk berbahasa dengan baik, berkarya melalui sastra, serta menjaga budaya sebagai bagian penting dari identitas bangsa Indonesia.

slot gacor malam ini