Universitas Katolik Santo Thomas melaksanakan Soft Opening Pusat Kajian Sustainability di Ruang Rapat Rektorat Unika Santo Thomas, Senin (25/5/2026). Kegiatan ini dirangkaikan dengan pelaksanaan Scientific Writing Clinic International Publication yang diikuti oleh 20 dosen dari berbagai program studi di lingkungan Unika Santo Thomas.
Pembentukan Pusat Kajian Sustainability menjadi langkah strategis universitas dalam memperkuat transformasi kelembagaan sekaligus menegaskan komitmen kampus terhadap pembangunan berkelanjutan. Kehadiran pusat kajian ini diharapkan menjadi ruang akademik yang mampu melahirkan gagasan, penelitian, dan pengabdian masyarakat yang berorientasi pada keberlanjutan lingkungan, sosial, dan ekonomi.
Wakil Ketua Yayasan Santo Thomas sekaligus pemrakarsa Pusat Kajian Sustainability, Lasro Simbolon, dalam sambutannya menyampaikan bahwa pembentukan pusat kajian ini merupakan salah satu pilar penting dalam program transformasi Unika Santo Thomas.

Menurutnya, isu sustainability sangat erat kaitannya dengan lahirnya peradaban baru. Perguruan tinggi tidak hanya bertugas mencetak lulusan yang memiliki kemampuan akademik, tetapi juga membangun paradigma, karakter, dan ideologi pembangunan yang berkelanjutan.
“Mahasiswa adalah calon pemimpin masa depan. Mereka tidak cukup hanya dibekali ilmu pengetahuan, tetapi juga harus memiliki kesadaran bahwa masa depan pembangunan harus berpihak pada keseimbangan lingkungan dan keberlanjutan kehidupan,” ujarnya.
Lasro menjelaskan bahwa para lulusan Unika Santo Thomas nantinya dapat berkarya di berbagai bidang, baik pemerintahan, dunia usaha, industri, maupun sektor lainnya. Namun, di mana pun mereka berada, nilai-nilai sustainability diharapkan tetap menjadi landasan moral dan tindakan.
“Mereka bisa menjadi suara nurani yang mengingatkan bahwa pembangunan bangsa harus berjalan selaras dengan keberlanjutan lingkungan dan kemanusiaan,” tambahnya.
Melalui Pusat Kajian Sustainability, Unika Santo Thomas akan menginternalisasi nilai-nilai keberlanjutan ke dalam kehidupan kampus, baik melalui kurikulum, budaya akademik, maupun tindakan nyata di lingkungan universitas.
“Seluruh mahasiswa dan program studi harus mendapatkan pemahaman serta pengalaman nyata mengenai tindakan berkelanjutan,” lanjut Lasro.
Selain menjadi pusat internalisasi nilai, pusat kajian ini juga diarahkan sebagai wadah pengembangan riset dan kolaborasi ilmiah bagi dosen. Melalui penelitian, penulisan ilmiah, dan pengabdian kepada masyarakat, para akademisi diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata terhadap berbagai isu keberlanjutan.
Lasro menilai keberadaan Unika Santo Thomas di Sumatera Utara memiliki posisi strategis dalam mendukung pembangunan berkelanjutan. Sumatera Utara merupakan salah satu daerah yang kaya akan sumber daya alam, baik di sektor pertanian, perkebunan, kehutanan, maupun sumber daya terbarukan lainnya.
“Dengan potensi yang dimiliki Sumatera Utara, Unika Santo Thomas harus hadir sebagai bagian dari solusi dan turut membantu masyarakat melalui pemikiran, penelitian, serta program pengembangan berbasis sustainability,” paparnya.

Ia juga menegaskan bahwa transformasi universitas harus terus dilakukan secara berkelanjutan. Menurutnya, Pusat Kajian Sustainability merupakan instrumen penting dalam mendorong transformasi internal kampus sekaligus bentuk kontribusi nyata kepada masyarakat luas.
Dalam perspektif nilai gerejawi, Lasro menyebut tradisi Fransiskan yang kuat di Unika Santo Thomas menjadi landasan moral dalam pengembangan pusat kajian ini.
“Prinsip Fransiskan menekankan bela rasa, keberpihakan kepada kaum kecil, dan kepedulian terhadap bumi. Nilai-nilai inilah yang menjadi roh dari Pusat Kajian Sustainability,” ungkapnya.
Ia menambahkan, semangat keberlanjutan tidak hanya berlaku bagi komunitas Katolik, tetapi merupakan panggilan universal untuk bersama-sama mendukung agenda pembangunan berkelanjutan.
Ke depan, Pusat Kajian Sustainability akan menjalankan berbagai program prioritas, baik di tingkat internal maupun eksternal. Secara internal, pusat kajian akan mendorong penguatan kurikulum berbasis sustainability serta pengelolaan lingkungan kampus yang lebih hijau, bersih, dan berkelanjutan, termasuk tata kelola persampahan.
Sementara itu, di tingkat eksternal, pusat kajian akan melaksanakan berbagai program penelitian dan pengabdian masyarakat melalui kerja sama dengan pemerintah daerah, lembaga penelitian, organisasi masyarakat, hingga perguruan tinggi lainnya.
“Kami menyadari bahwa sebagai perguruan tinggi dengan keterbatasan anggaran, kolaborasi menjadi sangat penting. Dengan program dan proposal yang baik, kami berharap berbagai mitra dapat mendukung pengembangan pusat kajian ini,” katanya.
Rektor Unika Santo Thomas, Prof. Maidin Gultom, turut menyampaikan harapannya agar Pusat Kajian Sustainability menjadi ruang lahirnya penelitian multidisiplin yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan zaman.
“Perguruan tinggi harus hadir sebagai pusat pemikiran dan pusat solusi atas berbagai persoalan bangsa, termasuk isu lingkungan, pembangunan berkelanjutan, ketahanan pangan, dan kualitas sumber daya manusia,” ujar Prof. Maidin.
Sebagai bagian dari rangkaian Soft Opening Pusat Kajian Sustainability, Unika Santo Thomas juga menyelenggarakan Scientific Writing Clinic atau bimbingan teknis penulisan karya ilmiah untuk publikasi bereputasi.
Dalam sambutannya, Prof. Maidin Gultom menegaskan bahwa perguruan tinggi saat ini dituntut menghasilkan penelitian dan gagasan yang mampu menjawab persoalan nyata di tengah masyarakat. Oleh karena itu, publikasi ilmiah bereputasi menjadi indikator penting kualitas akademik sekaligus bentuk kontribusi intelektual bagi perkembangan ilmu pengetahuan.
“Saya meyakini bahwa karya ilmiah yang berkualitas tidak hanya lahir dari kecerdasan intelektual, tetapi juga dari ketekunan, integritas, dan keberanian untuk terus belajar,” ucapnya.
Ia menambahkan bahwa Unika Santo Thomas memiliki komitmen untuk terus bertumbuh menjadi perguruan tinggi yang unggul dan berdampak. Komitmen tersebut harus diwujudkan melalui budaya penelitian dan publikasi ilmiah yang semakin kuat.
Karena itu, Prof. Maidin berharap para peserta memanfaatkan kegiatan ini untuk memperdalam pemahaman mengenai strategi penulisan artikel ilmiah, pemilihan jurnal bereputasi, penguatan metodologi penelitian, serta etika publikasi akademik.
“Kepada seluruh peserta, saya mengajak agar mengikuti kegiatan ini dengan sungguh-sungguh, aktif berdiskusi, dan membangun kolaborasi akademik yang produktif. Jadikan kegiatan ini sebagai langkah nyata untuk menghasilkan publikasi ilmiah berkualitas yang memberi kontribusi bagi kemajuan institusi maupun masyarakat luas,” katanya.
Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain Guru Besar Universitas Padjadjaran Bandung sekaligus Dewan Pakar DPP Parna Indonesia, Prof. Tualar Simarmata, Debora Ambarita, dan Diyah Utama.
Prof. Tualar Simarmata membawakan materi mengenai teknik penulisan artikel ilmiah berbasis sustainability. Debora Ambarita menyampaikan materi tentang penggunaan Bibliometric and Systematic Literature Review (B-SLR) serta teknik penulisan artikel ilmiah, sedangkan Diyah Utama membahas strategi mempersiapkan pengiriman artikel ilmiah ke jurnal bereputasi.
Lasro Simbolon menambahkan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kolaborasi dan pengabdian masyarakat antara Unika Santo Thomas dan DPP Parna Indonesia dalam mendukung keberlanjutan budaya riset di kalangan akademisi.
“Para peserta dalam kegiatan ini telah memiliki draft artikel ilmiah untuk dipublikasikan ke jurnal bereputasi. Kami melihat terdapat berbagai tema yang berkaitan dengan sustainability dan berpotensi menjadi gagasan awal dalam membangun kerja sama kolaboratif bersama pemerintah daerah di Sumatera Utara,” pungkasnya.

