Workshop Penguatan Kebhinekaan PPG Calon Guru Tahap I Tahun 2026: Menyiapkan Guru Profesional yang Inklusif, Humanis, dan Berkarakter

Universitas Katolik Santo Thomas melalui Program Studi Pendidikan Profesi Guru (PPG) menyelenggarakan Workshop Penguatan Kebhinekaan bagi PPG Calon Guru Tahap I Semester 1 Tahun 2026 yang berlangsung di Aula Magna Lantai 3 Perpustakaan Universitas Katolik Santo Thomas, Selasa (2/6/2026). Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter dan kompetensi calon guru agar mampu mengimplementasikan nilai-nilai kebhinekaan dalam praktik pendidikan di sekolah.

Workshop ini diikuti oleh seluruh mahasiswa PPG Calon Guru Tahap I sebanyak 59 orang, dosen, serta tenaga kependidikan yang terlibat dalam penyelenggaraan Program Pendidikan Profesi Guru. Melalui kegiatan ini, peserta diajak untuk memperdalam pemahaman mengenai keberagaman, toleransi, moderasi, dan semangat persatuan sebagai fondasi dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang inklusif dan berkarakter.

Acara diawali dengan registrasi peserta, dilanjutkan dengan pembukaan yang meliputi doa bersama, menyanyikan Lagu Indonesia Raya dan Mars Universitas Katolik Santo Thomas. Suasana penuh semangat dan kebersamaan mewarnai jalannya kegiatan sejak awal hingga akhir acara.

Dalam sambutannya, Ketua Program Studi PPG, Rumiris Lumban Gaol, S.E., M.Pd., menekankan pentingnya keseriusan dan fokus mahasiswa selama mengikuti proses pendidikan profesi guru.

“Kami berharap seluruh mahasiswa tetap fokus dalam mengikuti setiap proses pembelajaran dan tidak terpengaruh oleh hal-hal yang dapat mengganggu konsentrasi belajar. Waktu selama mengikuti PPG hendaknya dimanfaatkan sebaik mungkin untuk meningkatkan kompetensi dan kualitas diri. Output dari kegiatan ini diharapkan dapat diterapkan secara nyata di sekolah tempat praktik mengajar. Tetaplah semangat mengikuti setiap tahapan pembelajaran PPG,” ujarnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Drs. Losten Tamba, M.Pd., menyampaikan bahwa keberagaman merupakan anugerah yang patut disyukuri karena setiap individu diciptakan dengan keunikan dan potensi yang berbeda-beda.

“Tidak ada manusia yang sama persis, baik dari segi fisik maupun psikologis. Perbedaan merupakan karunia Tuhan yang menjadikan kita saling melengkapi dan menyempurnakan satu sama lain. Keberagaman tersebut menghadirkan berbagai potensi, bakat, dan kemampuan yang dapat memberikan kontribusi positif dalam kehidupan bersama,” ungkapnya.

Beliau juga mengingatkan para mahasiswa PPG yang akan menjalani praktik mengajar di berbagai sekolah agar mampu memahami keberagaman karakter peserta didik.

“Ketika nanti berhadapan dengan siswa yang memiliki latar belakang dan karakteristik yang berbeda, pahamilah bahwa perbedaan tersebut merupakan sesuatu yang alamiah. Untuk memperoleh perhatian dan empati dari peserta didik, perlakukan mereka sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik mereka. Dengan memahami setiap anak secara utuh, kita dapat membantu mereka berkembang sesuai potensi yang dimiliki,” tambahnya.

Pada kesempatan yang sama, Rektor Universitas Katolik Santo Thomas, Prof. Dr. Maidin Gultom, S.H., M.Hum., secara resmi membuka kegiatan workshop sekaligus memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan yang dinilai sangat relevan dengan kebutuhan dunia pendidikan saat ini.

Dalam sambutannya, Rektor menegaskan bahwa penguatan kebhinekaan merupakan nilai fundamental yang harus dimiliki oleh setiap calon guru sebagai agen pembentuk karakter bangsa.

“Indonesia adalah bangsa yang dibangun di atas keberagaman suku, agama, budaya, bahasa, dan latar belakang sosial. Keberagaman tersebut merupakan kekuatan besar yang harus dijaga bersama. Sekolah menjadi ruang strategis untuk menanamkan nilai-nilai kebhinekaan kepada generasi muda. Dalam konteks ini, guru tidak hanya bertugas menyampaikan ilmu pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter, menanamkan sikap saling menghormati, serta membangun budaya dialog yang sehat,” tegasnya.

Lebih lanjut, Prof. Maidin Gultom menyoroti tantangan dunia pendidikan di era transformasi digital yang ditandai dengan pesatnya perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

“Guru dituntut untuk mampu beradaptasi dan memanfaatkan teknologi guna meningkatkan kualitas pembelajaran dan efektivitas kerja. Namun demikian, kemajuan teknologi tidak boleh menggeser nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi inti pendidikan, seperti keteladanan, empati, kepedulian, dan kemampuan membangun karakter peserta didik. Oleh karena itu, saya berharap mahasiswa PPG mampu menjadi pendidik yang menguasai teknologi sekaligus berpegang teguh pada nilai moral, etika, toleransi, dan semangat kebhinekaan dalam menjalankan tugasnya,” tuturnya.

Workshop Penguatan Kebhinekaan ini menghadirkan tiga narasumber yang kompeten dan berpengalaman di bidang pendidikan serta pengembangan karakter.

Materi pertama disampaikan oleh Boloni Ritonga, S.Pd., Kepala Sekolah SD Antonius 5 Medan, dengan topik “Keragaman di Sekolah dan Menuju Sekolah Damai”. Dalam sesi ini, peserta diajak memahami pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman, harmonis, serta menghargai setiap perbedaan yang ada.

Materi kedua dibawakan oleh Dr. Nova Florentina Ambarwati, M.Pd., Wakil Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Katolik Santo Thomas sekaligus Dosen Pendidikan Profesi Guru, dengan tema “Kebhinekaan Global dan Kebhinekaan Indonesia”. Materi ini memberikan wawasan mengenai dinamika keberagaman dalam konteks global maupun nasional, serta strategi mengintegrasikan nilai-nilai kebhinekaan dalam proses pembelajaran.

 

 

Sementara itu, materi ketiga disampaikan oleh Sinta Dameria Simanjuntak, S.Si., M.Pd., Dosen Pendidikan Profesi Guru Universitas Katolik Santo Thomas, dengan topik “Berdamai dengan Diri Sendiri dan Aksi Nyata”. Melalui materi ini, peserta diajak untuk membangun kesadaran diri, mengembangkan sikap reflektif, serta menerjemahkan nilai-nilai kebhinekaan ke dalam tindakan nyata di lingkungan pendidikan.

Sepanjang kegiatan berlangsung, peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi melalui diskusi interaktif dan sesi tanya jawab bersama para narasumber. Berbagai pengalaman dan pandangan mengenai tantangan keberagaman di lingkungan sekolah menjadi bahan refleksi yang memperkaya wawasan para calon guru.

 

Melalui Workshop Penguatan Kebhinekaan ini, Universitas Katolik Santo Thomas kembali menegaskan komitmennya dalam mencetak pendidik profesional yang tidak hanya unggul dalam kompetensi akademik dan pedagogik, tetapi juga memiliki karakter kuat, sikap toleran, serta kemampuan membangun lingkungan pendidikan yang inklusif, damai, dan menghargai keberagaman.

Diharapkan seluruh peserta PPG Calon Guru Tahap I Tahun 2026 mampu menjadi agen perubahan yang membawa semangat persatuan dalam keberagaman, serta menjadi teladan dalam mewujudkan pendidikan yang humanis, berintegritas, dan berorientasi pada pembentukan generasi bangsa yang berkarakter.

slot gacor malam ini